Mahakam Daily – Anggota DPRD Kaltim Agus Suwandi memilih turun langsung ke gang-gang permukiman untuk menanamkan kembali nilai kebangsaan. Lewat sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2023, ia mengingatkan warga bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan cara hidup sehari-hari.
Sosialisasi Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan itu digelar Sabtu, 7 Februari 2026, di Jalan A Wahab Syahrani, Gang Kejaksaan, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu. Kegiatan ini merupakan sosialisasi kedua yang dilakukan Agus kepada masyarakat.
Dalam forum tersebut, Agus menekankan bahwa Indonesia sejak lahir adalah bangsa yang majemuk. Perbedaan suku, agama, dan budaya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat bersama.
“Keberagaman ini harus kita terima sebagai bangsa yang dinaungi Pancasila,” kata Agus di hadapan warga.
Ia mengingatkan, konflik kerap berawal dari persoalan-persoalan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Cara bicara yang berbeda, adat yang tak sama, hingga kebiasaan sederhana di lingkungan rumah bisa memicu gesekan jika tak dibingkai dengan toleransi.
“Jangan karena suku, agama, dan ras kita mudah terpecah,” ujarnya.
Agus juga membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara lain yang relatif homogen, namun tetap mengalami perpecahan. Menurut dia, keistimewaan Indonesia justru terletak pada kemampuannya menyatukan banyak perbedaan dalam satu rumah besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ini yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Agus menyebut, Perda Nomor 9 Tahun 2023 memberi dasar hukum bagi anggota dewan untuk terus hadir di tengah masyarakat. Melalui sosialisasi yang berkelanjutan, ia berharap generasi muda—terutama mereka yang berusia 20-an—tidak tercerabut dari nilai-nilai Pancasila.
“Hak masyarakat sudah saya sampaikan. Tinggal kita sama-sama menjaga,” kata Agus.
Narasumber lain, akademisi Dadang Imam Ghozali, menegaskan bahwa tanggung jawab menanamkan nilai Pancasila tidak hanya berada di tangan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya.
“Pancasila itu ibarat lem yang merekatkan persatuan bangsa,” ujarnya.
Menurut Dadang, semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya akan bermakna jika nilai-nilainya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi, saling menghormati, dan kepedulian sosial menjadi kunci agar keberagaman tidak berubah menjadi sumber konflik. (*)